Ketika pertanyaan tentang Kartini berikut makna peringatan serta beragam ihwal didalamnya dilayangkan pada saya, teringat kembali akan masa penjurian pelajar teladan tingkat SLTA di Kabupaten Belitung belasan tahun silam untuk menentukan siapa yang berhak lolos mewakili Belitung ke tingkat Propinsi Sumbagsel. Waktu itu salah satu psikotest wawancara terbuka oleh dewan juri mempertanyakan pada saya ihwal kartini. "Menurut saudara apakah emansipasi yang digagas Kartini telah sampai puncaknya?. Seusia saya yang baru duduk di bangku kelas 2 jurusan Fisika SMAN 1 Manggar, pertanyaan itu terdengar asing karena saya hanya dilatih dan terbiasa berpikir serta mengerjakan soal soal eksakta, bahasa inggris atau semacamnya. Ini agak membingungkan dan harus dijawab dengan bahasa inggris pula. Kering kerongkongan tiba-tiba dan untuk mengatasi kegugupan saya melirik dinding ruangan tempat wawancara berlangsung. Syukurlah, ada gambar RA. Kartini terpajang di dinding dan seketika itu pula opini mengalir deras. Sanggul melati dan kebaya putihnya menginspirasikan saya untuk beropini lebih banyak terkait pertanyaan. Tak begitu persis hapal apa yg saya sampaikan waktu itu. Intinya saya tuturkan bahwa perempuan masa kini jauh lebih baik, dapat mengenyam pendidikan yg diminatinya, dapat pergi kemana saja karena tidak dipingit (kecuali kasus adat tertentu, seperti saat mau jadi pengantin barangkali), dapat meraih cita-cita yang mimpikan, dapat menikah dengan pilihan hati, dapat menjadi pemimpin meskipun dominan dikuasai kaum maskulin, dapat memilih profesi apa saja sama seperti laki-lai dan sebagainya-sebagainya. Di sisi lain, tentunya belum sepenuhnya emansipasi itu diwujudkan karena masih banyak perilaku diskriminatif terhadap perempuan. Panjang lebar saya uraikan dengan mata tetap tertuju pada gambar Kartini hingga save by the bell dewan juri. Saya tidak yakin itu benar karena saya cuma mengira-ngira dengan perbendahaan argumentasi yang ada di kepala. Namun di akhir penjurian, singkat cerita saya terpilih mewakili Belitung ke tingkat propinsi. Barangkali, juri beranggapan hal tersebut ada benarnya atau memang kalkulasi test akademik memang unggul sebelumnya.
Pertanyaan serupa terulang kembali ketika semasa kuliah saya mesti bersaing dengan mahasiswi dan mahasiswa lain untuk meraih gelar mahasiswa berprestasi. Ya, tentu saja jawabannya mendasar pada hal yang sama hanya saja ditambah dengan contoh kasus. Korelasi positif dan negatif dengan faktor x serta y. Mungkin jawaban itu benar, hingga saya pun terpilih mewakili kampus. Pengalaman itu begitu membekas, pada saat saya kuliah dan bekerja apalagi saat momen hari lahir kartini diperingati dengan lomba-lomba baju kebaya kartini. Benarkah emansipasi yg digagas Kartini telah meluas wujudnya? Seberapa besar tingkat kemajuannya? Dan seterusnya. Sampai saat ini saya belum pernah melakukan ataupun membaca riset khusus terhadap hubungan peringatan Hari Kartini dengan Keberhasilan Perempuan.
Hari ini, masih dapat kita saksikan sebagian kaum perempuan termajinalkan secara budaya, ekonomi, sosial, hukum,politik, pendidikan dan lain-lain. perempuan-perempuan terpinggirkan saya jumpai langsung ketika riset di Pedalaman Kalimantan untuk merampungkan studi magister komunikasi politik yang saya tempuh. Berapa banyak perempuan yang menjadi korban perdagangan orang, korban penganiayaan KDRT, putus sekolah, hamil di usia belia, perkawinan paksa dan seterusnya. Begitu parahnya kondisi perempuan di luar diri kita yang tidak berdaya berbuat apa-apa bahkan untuk menolong dirinya sendiri. Bila Kartini masih ada, saya yakin dirinya akan tercekat memandang fenomena sosial yang melanda perempuan masa kini. Meskipun tak dinafikan sebagian perempuan lainnya meraih kesuksesan di berbagai bidang.
Perjuangan menegakkan hak-hak perempuan dalam artian emansipasi sesungguhnya tentulah tidak akan melunturkan nilai-nilai kondrati perempuan seperti menjadi ibu dan istri yang baik. Bagi saya, perjuangan emansipasi mesti dimulai dengan menjadikan diri perempuan sebagai sosok sholihah.
Dan kembali bagi diri saya sendiri, Kartini yang menginspirasi adalah sosok ibunda tercinta. Karena jauh sebelum saya ditanyai juri tentang Kartini atau bahkan sebelum saya bisa membaca, Ibu selalu mengajarkan pentingnya menjaga harkat dan martabat sebagai perempuan. Diajarinya cara bersopan santun, bersabar menempuh kesulitan, menghargai diri sendiri dengan cara berdandan dan berpakaian baik, hidup sederhana dan kegigihan meraih cita-cita yang dimimpikan. Saya kira inilah intinya emansipasi yang digagas Kartini sekian abad silam. Bisa jadi, sosok ibu saya merasuk pada gambar R.A. Kartini yang dipajang di ruang wawancara.